Suatu saat ketika seakan detak waktu berhenti dalam keheningan, datanglah kepadaku sesosok makhluk yang sangat indah ke dalam diriku, Ia yang bersayapkan beludru putih bersih dan berlapiskan sutra yang sangat indah. Dengan cahaya begitu lembut namun sangat terang bersinar dari atas mahkota emasnya. Ia yang anggun dan perkasa namun begitu halus menyapa pintu hatiku “Wahai hati yang tengah diliputi kebimbangan, ketinggian ilmu bukanlah yang
kan menyanjungmu ke atas langit. Bukan pula kemewahan dunia, ataupun kedudukan yang sementara, tapi sikap tawadhuk, tata krama, dan sopan santunmu kepada Alloh-lah yang
kan merubahmu dari seorang budak menjadi seorang yang merdeka. Bukalah juga jendela dan pintu yang ada di dalam hatimu terhadap kebenaran, maka senista apapun engkau, kau akan menjadi bercahaya.
Masih dalam keterkejutanku dan ketakjubanku, Ia kemudian melanjutkan petuahnya
‘Wahai hati letih yang tengah mencari kebahagiaan sejati, dalam keterbukaanmu terhadap cahaya kebenaran, hidayah akan datang kepadamu dan dengan segera menghadiahkan kepada hatimu sekeranjang penuh cinta dan kasih sayang, dimana kedamaian dan ketenangan hati adalah buah yang sungguh sangat ranum, yang tidak Alloh hadiahkan kecuali hanya kepada sang kekasih pilihanNya.”
Masih dalam gemeter aku kemudian berkata “Inikah hadiah dari Tuhanku?”
Dengan senyum terindah yang belum pernah kusaksikan sebelumnya, segera sang cahaya hidayah berkata “Wahai jiwa yang membersihkan diri, ini bukan hadiah kepadamu, ini hanyalah bukti bahwa engkau kini tengah bersama dengan Tuhanmu, dan ketika aku mengetuk pintu hatimu, dengan segera kau buka pintumu itu lebar – lebar, maka saat itulah tiada hijab antara kau dan Sang Kekasih, dan itulah saat – saat dua cahaya menjadi satu dalam lindungan Sang Penguasa Cahaya, dan itulah saat – saat ternikmat yang tiada pernah tergambarkan dalam ucapan seribu pena penyair”
Sedetak kemudian, sembari memelukku dengan sepasang sayapnya yang terbentang dari ujung barat dan timur, Sang Cahaya Hidayah kembali lagi berkata “ Wahai jiwa – jiwa yang bertaubat, ketika hatimu telah tunduk dan berserah diri pada Alloh, maka saat itulah Alloh kan dengan segera memudahkan segenap jalan hidupmu yang demikian berliku dan penuh onak duri ujian, Alloh kan tunjukkan kemudahan serta rejeki dari jalan yang tidak engkau duga sebelumnya.”
Detik berikut tiba – tiba Ia merengkuh jiwaku dan mulai mengajakku terbang menuju pegunungan cinta, lalu Ia pun berkata “Janganlah engkau segera tutup hatimu dengan keingkaran serta pemenuhan hasrat nafsu yang tiada berbatas, karena bila kau lakukan itu, maka kau telah menutup pintu hatimu dari Cahaya Kebenaran, dan akan Ia tinggalkan engkau dalam kesendirian. Meski kau berada di tengah keramaian malam yang tak berbintang.”
“Masihkah ku bertindak dalam kekakuan? Lantas apakah obatnya wahai kebijaksanaan?” Tanyaku penuh keraguan
Sembari tersenyum sejuk diapun menjawab “Wahai hati yang merindukan cinta, kekakuan hatimu bukanlah engkau yang menjawabnya, namun biarkan amal – amal sholehmu yang
kan meluluhkannya. Teruslah bergerak dalam amal, dan jangan biarkan sedetikpun yang akan menjadi tersia dalam keengganan. Bagi kehidupan, Ilmu ibarat sebuah pohon rimbun, dan amal adalah buahnya. Bagaimana mungkin bahagia
kan bersamamu bila kau telah tanam pohon, telah kau rawat dia, telah kau pupuk dia dengan pupuk kesabaran, telah kau beri dia air kepayahan dan duka, namun tak sekalipun kau rasakan buahnya? Biarkan amal menjadi buah yang sangat lezat dari pohon ilmu yang telah kau tanam. Nikmatilah buah itu, niscaya ia akan menjadi bahagia penawar duka dan penyejuk dahagamu akan hati yang begitu lembut dan bercahaya.”
Lalu diapun tersenyum bersama senyumku di dalam selimut cahayanya…….